SUBANG – Saat menjadi Bupati Purwakarta namanya makin populer karena program dan kebijakan-kebijakannya yang berbeda dengan bupati-bupati lainnya. Ia menekankan cinta seni dan budaya lokal dengan menerapkan di lingkungan kerja dan sekolah, misalnya pembangunan taman seni, patung, hingga mengenakan pakaian adat sunda.
Dedi juga melarang guru memberikan pekerjaan rumah kepada murid-muridnya. Materi pelajaran akademis sebaiknya dituntaskan di sekolah, bukan dijadikan pekerjaan rumah atau tugas yang justru menjadi beban siswa setelah pulang sekolah.
Sosoknya memang unik. Itulah Dedi Mulyadi. Ia lahir di Subang, 11 April 1991 dari pasangan Sahlin Ahmad Suryana dan Karsiti. Masa kecil hingga remaja ia habiskan di kota kelahirannya. Ia menempuh pendidikan di SD Sukabakti, SMPN Kalijati, dan SMA Negeri Purwadadi.
Kehidupan serba sederhana dan harus berusaha payah untuk bisa makan, Dedi Mulyadi menceritakan kala lauk ikan asin merupakan menu istimewa pada masa kecilnya dulu. Lauk ini hanya bisa di nikmati bersama 8 kakaknya pada hari-hari pertama “tanggal muda”. “Garam dikasih bawang, terus disimpan di toples. Makanan ini yang dibagikan pada sembilan anak. Terkadang malam hari saya diajak cari belalang untuk teman nasi, nah kalau udah makan dengan lauk ikan asin rasanya seneng banget” kata Dedi dikutip dari KDM Channel.
Tak ingin menjadi beban orang tua, Dedi melakukan apa saja untuk mendapatkan uang, mulai dari berjualan es Mambo,layangan, kayu bakar bahkan menjadi tukang ojek.” Segalanya sudah saya jalani, hidup itu berkah asalkan kita mau berusaha,” tuturnya.Untuk kuliah, ia memilih di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta, Jawa Barat. Ia lulus kuliah pada usia 28 tahun. Selama kuliah, Dedi juga aktif di berbagai organisasi kampus dan non-kampus. Ia menduduki posisi penting; Ketua HMI Cabang Purwakarta, Senat mahasiswa STH Purnawarman, Purwakarta, Wakil Ketua DPC Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), yang kemudian berlanjut sebagai Sekretaris Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).” Saat kuliah,saya tinggal bersama kakak, dan saya senang berorganisasi,” katanya.Selain itu, ia juga terjun ke partai politik. Pada tahun 1998, ia dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Partai Golkar Kabupaten Purwakarta. Kariernya di Partai Golkar kian melejit. Pada tahun 2001 ia menduduki kursi anggota DPRD Purwakarta dan menjadi ketua Golkar Purwakarta.
Dua tahun kemudian, ia ikut Pilkada menjadi wakil bupati berpasangan Lily Hambali. Pasangan ini terpilih menjadi bupati-wakil bupati Purwakarta periode 2003-2008. Pada Pilkada berikutnya, Dedi maju sebagai calon bupati berpasangan dengan Dudung B. Supardi. Pasangan ini menang untuk periode 2008-2013.Sukses Pilkada sebelumnya, ia raih kembali pada Pilkada 2013. Ia dinobatkan kembali menjadi bupati dengan pasangan Dadan Koswara periode 2013-2018. Ini kedua kalinya Dedi menjadi bupati Purwakarta. Sukses di Purwakarta, ia juga terpilih sebagai Ketua Umum Golkar Jawa Barat, 2016-2021.Pada Pilgub Jabar 2018, ia maju sebagai calon wakil gubernur dari Partai Golkar mendampingi Deddy Mizwar yang diusung oleh Partai Demokrat namun kalah oleh pasangan Ridwan Kamil ( RK ) dan Uu Ruzhanul Ulum.
Tak puas di Pilgub Jabar 2018, Dedi Mulyadi mundur dari Partai Golkar dan memilih Partai Gerindra untuk memantapkan langkahnya maju kembali di Pilgub Jabar 2024 bersama Erwan Setiawan yang merupakan kader Partai Golkar.Pasangan itu pun menang telak dengan perolehan suara terbanyak 14.130.192 atau 62.22 persen dari total suara sah.Sosok Dedi Mulyadi pun makin bersinar, melalui kebijakannya, Dedi menutup galian tambang, mengirim pelajar ke barak militer, melakukan sidak ke berbagai daerah dan membantu masyarakat yang tertimpa musibah. (ygo)
