Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaBlogEkonomiGaya HidupHomeNasionalOtomotifPolitikTeknologi

Industri Otomotif RI di Ujung Tanduk: Siapa Menjaga Momentum EV di Tengah Tekanan Fiskal?

115
×

Industri Otomotif RI di Ujung Tanduk: Siapa Menjaga Momentum EV di Tengah Tekanan Fiskal?

Sebarkan artikel ini

terminalberita – Industri otomotif Indonesia tengah menghadapi fase krusial. Dorongan percepatan menuju kendaraan listrik (electric vehicle/EV) semakin kuat seiring komitmen transisi energi dan target emisi nol bersih. Namun, di saat yang sama, tekanan fiskal 2025–2026, perlambatan daya beli, serta ketidakpastian kelanjutan insentif pemerintah menjadi tantangan serius yang tak bisa diabaikan.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: mampukah Indonesia menjaga momentum elektrifikasi tanpa terperosok dalam jebakan ketidakpastian kebijakan?

Example 300x600

Efek “Wait and See” yang Menghambat

Memasuki awal 2026, pelaku industri mulai bersikap hati-hati menyusul belum jelasnya arah kebijakan insentif EV. Sikap wait and see ini bukan sekadar respons bisnis biasa, melainkan refleksi atas risiko investasi yang kian tinggi.

Produsen kendaraan listrik yang sebelumnya agresif memperluas lini produk dan kapasitas produksi kini menahan langkah. Padahal, keberlanjutan investasi sangat bergantung pada kepastian regulasi, stabilitas insentif, dan dukungan fiskal yang konsisten.

Ekonom nasional Josua Pardede menilai, transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke EV merupakan pergeseran struktural yang kompleks.

“Ini bukan sekadar mengganti mesin. Dibutuhkan investasi besar, penyesuaian rantai pasok, kesiapan infrastruktur pengisian daya, hingga edukasi konsumen. Tanpa kepastian kebijakan, investor akan ragu dan daya beli masyarakat bisa tertekan,” ujarnya.


Dilema Pemerintah: Menjaga Anggaran atau Momentum?

Di tengah tekanan fiskal, pemerintah memang harus berhitung cermat dalam mengalokasikan insentif. Namun, kebijakan yang berubah-ubah atau tidak konsisten justru berisiko lebih mahal dalam jangka panjang.

Investasi yang tertunda berarti potensi hilangnya lapangan kerja, lambatnya transfer teknologi, serta berkurangnya daya saing Indonesia di tengah persaingan global EV yang semakin ketat.

Menurut Josua, fundamental Indonesia sejatinya masih kuat. Pasar domestik yang besar, bonus demografi, serta peta jalan elektrifikasi nasional menjadi modal utama.

“Kuncinya ada pada kesinambungan kebijakan. Industri dan konsumen membutuhkan kepastian agar dapat mengambil keputusan jangka panjang,” tegasnya.


Strategi Ekosistem: Langkah Berani di Tengah Ketidakpastian

Di tengah situasi tersebut, sejumlah pelaku industri tetap menunjukkan komitmen jangka panjang. VinFast Indonesia, misalnya, memilih strategi membangun ekosistem menyeluruh.

Tak hanya menghadirkan produk kendaraan listrik, perusahaan ini juga berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya, memperluas jaringan distribusi, serta memperkuat layanan purna jual. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap EV.

CEO VinFast Indonesia, Kariyanto Hardjosoemarto, menegaskan komitmen jangka panjang perusahaannya.

“Kami ingin memastikan konsumen memiliki akses dan kepercayaan penuh terhadap kendaraan listrik. Visi kami adalah menjadikan Indonesia sebagai hub EV regional,” ujarnya.

Peluncuran MPV listrik 7-seater Limo Green pada awal 2026 menjadi bagian dari strategi tersebut. Model ini menyasar segmen keluarga sekaligus kebutuhan komersial seperti armada taksi dan layanan ride-hailing, menyesuaikan karakteristik pasar Indonesia.


Pilihan Strategis yang Menentukan Arah

Industri otomotif nasional kini berada di titik balik. Elektrifikasi bukan lagi wacana, melainkan keniscayaan global. Namun, tanpa kepastian fiskal dan kesinambungan insentif, laju transformasi bisa tersendat.

Kejelasan kebijakan bukan hanya soal subsidi atau potongan pajak, melainkan sinyal kuat bagi investor, pelaku industri, dan konsumen bahwa Indonesia serius membangun masa depan otomotif berbasis energi bersih.

Keputusan hari ini akan menentukan apakah Indonesia mampu menjaga momentum menuju era EV, atau justru tertinggal dalam kompetisi global yang kian agresif. (Yana)

Example 300250