Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
DaerahKesehatanNasional

Tanggapi Survei PMII Balangan, BGN Balangan Buka Pengaduan untuk Evaluasi Program MBG

18
×

Tanggapi Survei PMII Balangan, BGN Balangan Buka Pengaduan untuk Evaluasi Program MBG

Sebarkan artikel ini

TERMINALBERITA, BALANGAN – Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Wilayah Balangan, Sri Handayani, menanggapi hasil survei yang dilakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Balangan terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Balangan.

Survei yang dilakukan PMII Balangan pada 17 hingga 20 April 2026 tersebut melibatkan 60 responden dari berbagai kalangan. Responden didominasi masyarakat umum sebesar 48,3 persen, keluarga penerima manfaat 26,7 persen, mahasiswa 8,3 persen, serta guru, kader posyandu, relawan, penerima manfaat hingga pegawai SPPG.

Example 300x600

Berdasarkan hasil survei, mayoritas responden menilai program MBG memberikan dampak positif, terutama dalam membantu pemenuhan gizi anak-anak serta meringankan beban ekonomi keluarga. Program tersebut juga dinilai membuat anak-anak lebih semangat bersekolah dan lebih fokus mengikuti pembelajaran.

Meski demikian, survei juga menemukan sejumlah catatan evaluasi. Sebagian responden menyebut makanan yang diberikan cukup enak, bersih, dan memenuhi standar gizi, namun ada pula keluhan mengenai menu yang kurang bervariasi, dominasi lauk telur, rasa makanan yang terkadang hambar, hingga porsi yang dianggap kurang.

Selain itu, beberapa responden mengaku pernah menemukan makanan yang kurang layak seperti nasi yang belum matang atau lauk yang kurang segar. Permasalahan keterlambatan distribusi juga menjadi sorotan karena dinilai memengaruhi kualitas makanan saat diterima penerima manfaat.

Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Kabupaten Balangan, Sri Handayani menyampaikan apresiasi atas survei yang dilakukan PMII Balangan.

Menurutnya, hasil survei tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi pihaknya untuk melakukan perbaikan terhadap pelaksanaan program di lapangan.

“Kami sebagai salah satu bagian dari Badan Gizi Nasional yang ada di Kabupaten Balangan sangat berterima kasih atas adanya survei ini, sehingga menjadi bahan evaluasi kami untuk melakukan perbaikan terutama mengenai kualitas makanan dan waktu pendistribusian,” ujarnya, Selasa (29/4/2026).

Ia mengakui, banyak responden menilai menu makanan masih kurang bervariasi. Namun menurutnya, pihak BGN sebelumnya telah beberapa kali melakukan evaluasi bersama BGN pusat terkait standar menu makanan yang aman dan dianjurkan untuk didistribusikan kepada penerima manfaat.

Sri Handayani menjelaskan, terdapat beberapa bahan pokok dan jenis makanan yang tidak dianjurkan untuk disalurkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, keterbatasan bahan baku pangan di daerah juga menjadi salah satu penyebab menu makanan belum terlalu beragam.

“Melalui survei ini kami akan berusaha memperbaiki dengan cara berkoordinasi dan berkolaborasi dengan para ahli gizi puskesmas setempat untuk membuat menu yang lebih bervariasi tanpa mengenyampingkan keamanan makanan yang akan kami distribusikan kepada penerima manfaat,” katanya.

Ia juga menghimbau masyarakat maupun penerima manfaat agar melaporkan apabila menemukan hal-hal yang tidak sesuai di lapangan, seperti menu yang tidak layak, menu terlalu minimalis, hingga kualitas makanan yang menurun akibat keterlambatan distribusi.

Menurutnya, laporan masyarakat sangat penting agar pihaknya dapat segera melakukan evaluasi langsung terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bersangkutan.

“Apabila menemukan hal-hal yang tidak sesuai di lapangan silakan mengisi link pengaduan Program MBG Kabupaten Balangan agar kami bisa langsung melakukan evaluasi kepada SPPG terkait,” ucapnya.

Adapun link pengaduan Program MBG Kabupaten Balangan yang disediakan pihak BGN yakni:

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLScOhgyRHBYIbT9nvM0BAiAJxX4VnExpn95qc6aUNr3al1Zsdw/viewform?usp=publish-editor

Terkait anggapan porsi makanan yang dinilai kurang sesuai dengan nama Program Makan Bergizi Gratis, Sri Handayani menegaskan bahwa seluruh porsi makanan yang didistribusikan telah dihitung berdasarkan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) sesuai ketetapan Badan Gizi Nasional dan acuan Kementerian Kesehatan.

“Porsi makan siang yang kami distribusikan mengacu pada target 30 sampai 35 persen kebutuhan gizi harian per sekali makan dan sudah disesuaikan dengan usia penerima manfaat,” pungkasnya.

Example 300250