terminalberita – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Rusia kembali memanas menyusul insiden jatuhnya pesawat tak berawak (drone) militer AS di wilayah Laut Hitam. Washington menuding manuver pesawat tempur Rusia sebagai penyebab insiden tersebut, sementara Moskow membantah keras tudingan itu.
Pejabat militer Amerika Serikat menyebut drone tersebut tengah menjalankan misi pengawasan rutin di wilayah udara internasional ketika dicegat oleh dua pesawat tempur Rusia. Dalam pernyataannya, pihak AS menilai manuver yang dilakukan jet tempur Rusia bersifat agresif dan tidak profesional, sehingga menyebabkan drone kehilangan kendali dan akhirnya jatuh ke perairan Laut Hitam.
Menurut Washington, tindakan tersebut berisiko memicu eskalasi yang tidak diinginkan di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara. Pemerintah AS juga menegaskan bahwa operasi pengawasan dilakukan sesuai hukum internasional dan tidak melanggar wilayah udara negara mana pun.
Sebaliknya, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan drone AS terbang tanpa mengaktifkan transponder dan memasuki area yang diklaim sebagai zona pembatasan sementara. Moskow menegaskan tidak terjadi kontak fisik antara pesawat Rusia dan drone tersebut. Rusia menyebut pesawat tak berawak itu jatuh akibat manuver tajam yang dilakukannya sendiri.
Insiden ini kembali menyoroti tingginya tensi antara Washington dan Moskow, terutama sejak konflik di Ukraina memperuncing hubungan kedua negara. Laut Hitam sendiri menjadi kawasan strategis yang kerap menjadi titik interaksi militer kedua pihak.
Pengamat hubungan internasional menilai insiden semacam ini meningkatkan risiko salah perhitungan di lapangan yang berpotensi memperburuk hubungan diplomatik antara kedua negara adidaya tersebut.
