BeritaBlogEkonomiTeknologiUncategorized

Ilmuwan Indonesia Kembangkan Teknologi 6G, Didukung Laboratorium Berstandar Tinggi

107
Ilmuwan Indonesia menggarap pengembangan teknologi 6G dengan dukungan laboratorium canggih guna mengejar China dan AS. (Foto: BRIN)

terminalberita.com – Indonesia terus mendorong inovasi di bidang telekomunikasi agar tidak tertinggal dalam persaingan global. Salah satu teknologi yang kini menjadi perhatian dunia adalah jaringan komunikasi generasi keenam atau 6G, yang tengah dikembangkan berbagai negara maju.

Tak ingin sekadar menjadi pengguna, ilmuwan Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut ambil bagian dalam pengembangan teknologi 6G.

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yohanes Galih Adhiyoga, mengungkapkan bahwa fokus riset saat ini adalah pengembangan antena mikrostrip single layer dan multilayer untuk mendukung implementasi 6G.

Menurut Yohanes, antena dirancang dengan dimensi sangat kecil agar dapat terintegrasi dalam perangkat telepon seluler atau smartphone.

“Kita tidak mungkin memiliki antena yang dimensinya melebihi ukuran telepon seluler itu sendiri. Karena itu, antena harus dirancang sekecil mungkin agar bisa ditempatkan di dalam perangkat,” ujarnya di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, Rabu (18/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam satu perangkat ponsel cerdas terdapat beberapa antena, seperti antena seluler, WiFi, Bluetooth, dan lainnya. Karena itu, desain antena harus dirancang secara presisi agar tidak saling mengganggu performa masing-masing sistem.

Tahapan Riset dan Pengujian Hingga 110 GHz

Proses penelitian dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari simulasi, optimasi desain, fabrikasi prototipe, hingga pengukuran performa di laboratorium.

“Kita sudah melakukan pengadaan perangkat yang mampu mengukur hingga 110 GHz. Antena-antena tersebut nantinya diuji sampai frekuensi setinggi itu,” jelasnya.

Tim peneliti juga telah melakukan berbagai pengukuran teknis, seperti s-parameter, pola radiasi, serta karakteristik elektromagnetik lainnya. Studi ini menjadi fondasi awal bagi pengembangan teknologi 6G yang ke depan berpotensi memanfaatkan spektrum frekuensi millimeter-wave di Indonesia.

Kembangkan Antena SATCOM dan Phased Array

Selain antena untuk perangkat seluler, tim PRT BRIN juga mengembangkan antena komunikasi satelit (SATCOM). Riset ini bertujuan memastikan komunikasi tetap stabil antara satelit di orbit geostasioner dan ground station di Bumi.

Dalam pengembangannya, tim tengah merancang sistem phased array dengan mengadopsi konsep yang digunakan pada layanan satelit Starlink.

Teknologi phased array memungkinkan pengendalian arah pancaran sinyal secara elektronik tanpa pergerakan mekanis antena.

“Antena secara fisik tetap diam, namun dari sudut pandang elektromagnetik, arah pancaran sinyalnya dapat bergerak. Ini penting karena satelit orbit rendah bergerak sangat cepat, sehingga antena harus mampu mengikuti pergerakan tersebut,” paparnya.

Didukung Infrastruktur Laboratorium Canggih

Untuk menunjang riset 6G, PRT BRIN didukung sejumlah laboratorium tematik, antara lain Communication and Signal Processing (CSP) Laboratory, RF, Microwave, Acoustic, and Photonic (RFMAP) Laboratory, Antenna and Propagation (AP) Laboratory, Advanced Network Protocol (ANP) Laboratory, serta Audio Visual Transmission Laboratory.

Selain itu, tersedia fasilitas near-field anechoic chamber untuk pengujian dan karakterisasi antena secara presisi.

Dari sisi peralatan, laboratorium juga dilengkapi network analyzer dengan kemampuan pengukuran hingga 110 GHz, serta mesin LPKF Protolaser H4 yang mendukung fabrikasi prototipe perangkat elektronik berpresisi tinggi.

Melalui dukungan infrastruktur tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi 6G, tetapi juga mampu berkontribusi dalam pengembangan dan inovasi teknologi komunikasi masa depan. (ngs)

Exit mobile version